Resensi Buku Fakta Baru Walisongo
Penulis: Handriadi Iswardani
Sumber: gemini.google.com
“Telaah Kritis Ajaran, Dakwah dan Sejarah Walisongo”
Penulis : Ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin
Penerbit : Pustaka Imam Bonjol
Halaman : 383. (Hardcover)
Harga : <> Rp.100.000
"Apakah proses Islamisasi di Jawa merupakan hasil dari Jawa yang diislamkan, atau justru Islam yang dijawakan di tanah Jawa? Pertanyaan ini menimbulkan kontroversi: apakah dominasi Islam sebagai agama mayoritas di pulau Jawa semata-mata merupakan buah usaha sembilan tokoh yang dikenal sebagai Walisongo, atau justru sosok Walisongo itu sendiri hanyalah figur yang bersifat legendaris? Inilah perdebatan yang kerap muncul saat membahas eksistensi Walisongo."
"Tampaknya sosok Walisongo akan terus menjadi figur yang dikagumi, terutama oleh masyarakat Jawa. Makam-makam mereka senantiasa dikunjungi para peziarah, meskipun gambaran walisongo dalam benak mereka masih samar dan tidak jelas. Bahkan dalam historiografi Jawa, Walisongo—yang dianggap sebagai tokoh sentral dalam penyebaran Islam di pulau ini—sering ditampilkan sebagai sosok mistis dan sakti, yang terikat pada praktik klenik seperti bertapa dan pemujaan roh leluhur, serta tampak tidak terlibat dalam kehidupan sosial-politik yang bersifat profan. Gambaran ini sangat bertentangan dengan realitas kehidupan generasi awal penyebaran Islam, yang penuh dengan dinamika politik, semangat patriotik, keterlibatan sosial, serta apresiasi rasional terhadap tradisi dan kebudayaan lokal yang berkembang di masyarakat."
"Bahkan, sosok Walisongo—baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga dakwah yang memiliki kualifikasi organisasi yang matang, strategi yang cermat, dan perjuangan dakwah yang luar biasa—nyaris lenyap ditelan oleh legenda, dongeng, dan mitos. Oleh karena itu, mendokumentasikan sejarah serta ajaran Walisongo membutuhkan sikap yang cermat, nalar yang sehat, serta telaah yang kritis dan obyektif, agar mereka dapat muncul kembali sebagai sosok logis, tokoh bertalenta, dan juru dakwah yang berhasil menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Sebelumnya mayoritas memeluk agama Hindu, Buddha, dan animisme, masyarakat Jawa akhirnya menerima Islam sebagai keyakinan mayoritas."
"Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah, ia selalu memajukan agama Islam dengan dibantu oleh para wali dan saudagar Islam. Diangkatnya Raden Patah sebagai sultan dipulau jawa, bukan hanya di Demak, bahkan membuat Cirebon menjadi semacam Negara bagian Kesultanan Demak. Hal ini sesuai dengan rencana Sunan Ampel bahwa kesultanan Demak akan menjadi pelopor penyebaran agama Islam diseluruh pulau jawa." (Sudirman, hal. 16 dikutip Zainal Abidin, 2016: hal. 57)
Sebagai kesimpulan, keberadaan Walisongo dapat diyakini sebagai fakta sejarah yang terjadi pada masa lampau, dan peran mereka dalam penyebaran Islam di Nusantara sangatlah signifikan. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa dalam praktiknya, masyarakat sering kali cenderung memberi pujian yang berlebihan kepada sosok-sosok ini. Akibatnya, kisah-kisah yang sebenarnya berdasarkan fakta dapat tertutupi oleh tambahan-tambahan naratif, mitos, atau unsur dramatis yang membuatnya sulit untuk dipercaya sepenuhnya.
Fenomena ini mirip dengan berita yang, meskipun berakar pada fakta, kemudian dibumbui oleh unsur emosional dan sensasional sehingga kehilangan objektivitasnya. Oleh karena itu, pendekatan yang kritis, selektif, dan berbasis penalaran logis menjadi sangat penting dalam menelaah sejarah Walisongo. Dengan cara ini, kita dapat tetap menghormati kontribusi dan prestasi mereka dalam menyebarkan ajaran Islam, sambil membedakan antara realitas historis dan kisah yang dilebih-lebihkan atau bersifat legendaris. Sikap seperti ini tidak hanya menjaga integritas sejarah, tetapi juga memperkaya pemahaman kita terhadap dinamika sosial, budaya, dan spiritual yang berkembang di masyarakat Jawa pada masa itu.



Komentar
Posting Komentar